Zuhal, Profesor yang “Menjual” Pendidikan
Hari ini saya bertemu dengan Bapak Zuhal, Rektor Universitas Al-Azhar. Cukup lama waktu yang harus saya lewati dengan menunggu di ruangan sekretarisnya karena dia sedang rapat pada saat itu. Pak Ridwan, sang sekretaris mengatakan bahwa dia harus melayat karena ada guru besar yang meninggal dunia. Waktu Pak Ridwan mengatakan hal itu, waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Gosh..aku pikir ngga mungkin aku bisa wawancara ama dia kalo kaya gini..
Tapi ternyata ngga tuch. pas pukul setengah 2 siang, Pak Zuhal selesai rapat, tapi dengan ramahnya dia menyambut aku dan menggiringku ke dalam kantornya. Walaupun dalam kondisi sibuk bukan main, dia mengatakan wawancaranya santai aja ngga perlu buru-buru. Alhasil saya berhasil mewawancarai dia hingga kurang lebih satu jam.
yang unik dari Bapak yang satu ini, dia menganggap bahwa pendidikan memang tidak murah, maka dari itu pendidikan memang harus dikelola seperti layaknya perusahaan. Maka dari itu universitas Al-Azhar punya tagline “interpreneur university”. Maksudnya adalah, universitas ini dikelola seperti layaknya sebuah perusahaan. Jadi universitas itu dimiliki oleh para pemegang saham yang terdiri dari yayasan, individual dan pendonor. Namun yang jelas pengelolaan ini bukan berarti berorientasi pada keuntungan. maka dari itu setiap keuntungan digunakan untuk kemajuan pendidikan (klise banget ya book!)
tapi boleh laaah..pemikiran-pemikiran kaya gini nie, yang menurut saya harus ditanamkan kepada penduduk Indonesia. Untuk menjadi pintar tidaklah murah, jadi jika ingin mendapatkannya maka harus mencari jalan untuk mencari duit supaya bisa dapet pendidikan. Hal ini menurut profesor Zuhal ngga bener juga, untuk orang-orang yang benar benar ngga mampu itu seharusnya urusan pemerintah. Jadi, universitas-universitas yang ada sekarang seharusnya bisa mandiri, nah dana yang dialokasikan kepada universitas itu baru diberikan kepada yang ngga mampu. Biar ngga salah sasaran.
selama ini orang2 indonesia malah menginginkan pendidikan semurah-murahnya ampe kalo bisa gratis. Ini kan ngga bener. kalo setiap universitas dikasie subsidi, maka yang menikmati itu orang2 yang mampu juga. pada akhirnya malah manja, mereka ngga tau seberapa besar sebenarnya harga yang harus mereka bayar untuk pendidikan tersebut.
Untung saja ada orang seperti Pak Zuhal ini, yang mendirikan universitas Al-Azhar dengan berusaha mencari rekanan untuk pengelolaan kampusnya, bukannya menggantungkan ke pemerintah lagi – pemerintah lagi..akibatnya kan universitas ini hanya dihuni ama orang2 tajir. tapi ternyata ngga juga, dia juga mengalokasikan beasiswa khusus buat orang2 yang tidak mampu. Jadi, sebenarnya Indonesia ini harus mandiri biar jangan menyalhkan pemerintah doank. Otak-otak pecundang yang hanya ingin diurusin bukannya berdiri sendiri dan cari akal agar semua bisa berjalan tanpa adanya campur tangan pemerintah.
Zuhal mengatakan jika hal ini dipertimbangkan sebagai komersialisasi pendidikan maka hal itu salah, karena orientasinya bukan pada keuntungan, tapi peningkatan kualitas lulusan mahasiswanya. Hal ini lah yang mencegah AUaI menjadi kampus yang menjual pendidikan
Udin, Anak Jalanan Penyelamatku
Kadang seseorang lupa betapa beruntungnya mereka hidup di dunia ini. Mereka terlalu terlena dengan rezeki yang telah diberikan Tuhan sepanjang hidupnya. Mereka tidak pernah berpikir dengan kehendaknya semua yang mereka miliki bisa saja musnah. Dan aku yakin bahwa orang-orang seperti itu tidak akan sanggup menahannya. Aku termasuk di dalam orang-orang tersebut.
Aku selalu mengeluh, ya Tuhaan…kenapa kerjaanku sebegini sulitnya?? Ya Tuhan kenapa atasanku tidak mengerti posisiku? Ya Tuhaan..kenapa begitu sulitnya Kau beri cobaan ini? Aku selalu menyalahkan Tuhan tanpa berpikir bahwa aku bisa tidur di tempat yang nyaman, aku bisa makan makanan yang layak, aku bisa menikmati nikmatnya kesehatan yang diberi..tidak terpikir sedikit pun bahwa seharusnya aku bersyukur kepadaNya atas nafas yang diberikan.
Baru saja kemarin, aku merasakan bahwa hidupku sangat kacau karena diomelin atasan, kerjaan tidak pernah beres, ngerasa sebagai pecundang dan tidak berguna. Baru saja kemarin aku tidak mensyukuri hidup yang diberikanNya kepadaku. Baru saja kemarin aku ngambeg kepadaNya, tidak mau lagi memohon kepadaNya. Baru saja kemarin aku merasa tidak beharga sebagai manusia.
Tetapi memang Dia masih sayang kepadaku. Dia masih menegurku dan memberi tahu dengan caranya sendiri. Hari ini, aku mengalami hal yang luar biasa. Terima kasih kepada Udin, anak mungil yang jadi perantaraNya. Terima kasih banyak, aku berhutang kepadanya.
Cerita berawal tadi sore, ketika aku pulang dari kantor. Keadaanku sangat kacau. Pekerjaan yang tidak aku kuasai, kemudian pacar yang mulai gerah terhadap gerak gerikku. Ketika aku merasa tidak mempunyai sedikitpun dari kehidupanku yang aku bisa syukuri. Aku kerja di sebuah majalah, majalah pendidikan berbahasa inggris. Dari luar sie keliatannya oke, tapi ternyata prestasiku tidak sebagus yang kukira.
Penyesalan selalu ada di benakku karena aku harus memutuskan untuk keluar dari mediaku yang lama yaitu koran Seputar Indonesia. Aku keluar dari sana karena aku memikirkan tentang masa depanku untuk menikah dengan qiqi, asisten redactur biro Palembang yang jika kami teruskan rencana kami maka salah satu dari kami harus keluar dari kantor itu.
Aku memutuskan keluar karena aku berpikir karirku masih sangat dangkal disana. Majalah Campusasia ini menerimaku, tapi ternyata keadaan tidak semulus yang aku kira. Keadaan kantor sangat menyiksaku, karena aku tenggelam akibat pemredku pilih kasih (setidaknya menurutku). Dia lebih seneng “ngopenin” temen seangkatanku candyce.
Well, jelas hal ini sangat menekanku, apalagi ditambah dengan rasa sentimennya terhadapku. Puncaknya adalah ketika kemarin, saat aku diberikan tugas sekretaris redaksi, yaitu membuat surat permohonan liputan ke kedubes Australia. Dan untuk itu saja aku dimaki-maki di depan teman-teman. Harga diriku terinjak-injak.
Disinilah saat-saat dimana aku marah dengan Tuhan. Aku marah karena ketidakadilan yang ada di hidupku. Aku marah karena aku tidak bisa melawan. Aku marah karena tidak terima, mengapa kehidupan mereka jauh lebih baik dariku. Aku bahkan berpikir, percuma aku tungging-tunggingan sholat lima waktu setiap hari, hanya untuk dihina seorang timor yang belagu dan sangat sombong itu.
Namun amarah itu padam karena Udin. Aku yakin dia adalah perantara yang sengaja Tuhan berikan untuk memberikan penjelasan kepada amarahku. Selama ini aku kurang bersyukur..
Jadi tadi sore, entah kenapa, tumben-tumbennya aku meminta koran investor daily dari kantor dan memang kebetulan koran itu ada dan masih dibungkus (dilipat kemudian dibungkus kertas). Naah..itu koran aku ngga buka karena ketunda rapat redaksi sampai pulang. Otakku sudah panas, bahkan sampai selesai rapat, masih ada kerjaan yang aku tinggal, karena calon suamiku mulai tidak suka pekerjaanku.
Aku pulang dengan buru-buru, dengan harapan supaya qiqi ngga marah (walaupun pada akhirnya tetap marah). Karena koran itu masih dibungkus, aku bawa pulang koran itu dengan harapan aku bisa membacanya di kosan.
Entah kenapa pula, aku tidak mau memasukkan koran itu ke dalam tas. Aku membawanya di tangan kiriku sembari membawa motor. Sembari berpikir, betapa kesalnya aku dengan hidupku, aku masih menenteng koran tersebut hingga lampu merah menuju Tugu Tani. Di lampu merah aku berhenti di depan line zebracross karena kebetulan lampu merah tersebut baru menyala, jadi aku berada di barisan depan.
Dari kejauhan aku memandang langkah gontai anak kecil berusia kira-kira enam tahun. Aku sangat yakin dia sangat kecil untuk seumurannya. Dengan matanya yang sangat polos, dia melihatku dan koran yang aku pegang secara bergantian.
Anak itu ada di sebelah kananku karena dia berada di trotoar. Tanpa disangka tau-tau dia sudah berada di sebelah kiriku sambil menatapku. Dia bertanya,
“Mba, itu koran yah?”
Karena kaget aku bertanya kembali, “Apa dek?”
Dia kemudian kembali menanyakan dan kali ini sambil menunjuk koranku “Itu koran ya mbak?”
Astaga, aku berpikir kenapa anak ini tiba-tiba nanyain koran, aku kira dia akan menadahkan tangan dan meminta-minta seperti anak pengemis lainnya. Apakah dia menginginkan koran ini?
Aku kembali bertanya “Iya, ini koran, emangnya kamu mau?”
“Iya mba,”
Ya Tuhaaan…Subhanallah,,he’s just a kid, sangat terlihat dia kurus dan kurang gizi, tapi aku yakin dia akan menjadi pemuda yang tampan karena parasnya masih menarik walaupun kumal.
Aku tidak serta merta memberikan koran tersebut, aku kembali bertanya sambil ditatap oleh kedua mata yang sangat polos itu.
“Lho, emangnya kamu buat apa dek,” ujarku
“Buat tidur!”
Astagfirullah..seperti disambar petir rasanya. Entah aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku. Sepertinya aku sudah benar-benar tertampar. Pikiranku langsung melayang. Tuhaan, anak sekecil ini harus beralas koran pada tidurnya, sedangkan aku bisa nyaman di kasur empuk? Segitu beratnya kehidupan sang anak tetapi tidak ada satu pun dalam tatapannya dia menghujatMu Tuhan. Sedangkan aku? Aku yang bisa tertawa sana sini, tidur enak, makan enak, sama sekali tidak bersyukur akan itu?
Aku langsung memberikan koran itu, kepadanya.
“Ya udah dek, ini! Udah sana, jalan lagi, takutnya keburu ijo, ntar ketabrak lagi!”
“Iya, makasie ya mbak!”
“Namamu sapa?”
“Udin Mbak,”
Namun sempat dilihatnya koran itu, kemudian dia kembali bertanya, “Mba ini koran baru?”
“Iya, ini koran hari ini dek,” aku tahu pasti dalam pikirannya koran itu bisa dia jual kembali dan mendapatkan uang, mungkin akan lebih untung. Kemudian pada waktu dia membalikkan badan aku sentuhlah punggungnya. Semakin sedih aku pada saat mengetahui, bahwa tulang bahu dan belikatnya sangat menonjol, pertanda dia terlalu kurus untuk seukurannya.
Air mataku mengalir saat itu juga ketika aku melihatnya berlalu..kuputuskanlah meminggirkan motorku dan mengejarnya.
“Udin!!Din!!” teriakku.
Dia membalikkan badan dan menghampiriku yang setengah berlari menghampirinya. Sambil bersujud untuk menyetarakan diriku dan dirinya. Sambil menyembunyikan air mataku, aku bertanya “Din rumahmu dimana?”
“Di kolong Mbak,” katanya polos.
“Di kolong mana Din,” tanyaku
“Tuuh, di pasar rumput,” ujarnya.
“Ibu?”
“Disitu juga Mbak, saya hari ini sendiri, soalnya Bapak lagi sakit, Emak yang jagain,” masih dengan pandangannya yang polos dan parasnya yang tampan.
Aku keluarkan lembaran uang sepuluh ribu dan kuberikan kepadanya,
“Makasie banyak ya Din,”
Dengan senyum yang lebar dia pergi begitu saja.
Adegan singkat itu sangat berarti buatku. Udin menyadarkanku betapa tidak bersyukurnya aku terhadap rizki yang diberikan Tuhan kepadaku. Belakangan aku menyesal hanya memberikan uang sepuluh ribu. Apa yang dilakukannya tidak ternilai.
Terima kasih Udin. Terima kasih..Kau tidak akan pernah sadar bahwa kau menyadarkan seseorang Din. Kau mendekatkan kembali orang kepada Tuhannya. Udin, aku selalu berdoa untukmu. Mudah-mudahan Tuhan menyelamatkanmu. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi Din, supaya aku bisa membalas jasamu.
Tuhan, selamatkanlah dia..dan Terima kasih banyak ya Allah, kau tetap merangkulku. Terima kasih.
30 Oktober 2008
Undang Undang Penyiaran Masih Lemah
Undang-undang penyiaran dirasakan masih sangat lemah. Karena itu media di Indonesia hanya dikuasai oleh beberapa orang atau kelompok. Akibatnya terjadi monopoli kepemilikan hingga membuat terjadinya gangguan pasar. Semua ini adalah berkah dari undang-undang penyiaran 2004, yang memberikan celah kepada para pelaku media untuk dijadikan lahan bisnis.
Hal tersebut terungkap di dalam Seminar Membedah Cross Ownership Media, kemarin di Jakarta. Hadir sebagai pembicara Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Don Bosco Selamun, Dirjen SKDI Depkominfo, Freddy H. Tulung, Direktur Kebijakan Persaingan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Taufik Ahmad, dan Koordinator Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia (MPPI), Kukuh Sanyoto.
Cross-ownership media, terjadi akibat subsidi silang yang dilaksanakan oleh lembaga penyiaran. Padahal Indonesia telah lama mempunyai aturan mengenai cross ownership media seperti yang termuat di dalam UU no.32/2002 tentang penyiaran antara lain di pasal 20 yang berbunyi “Lembaga penyiaran swasta jasa penyiaran radio dan jasa penyiaran televisi masing-masing hanya dapat menyelenggarakan satu siaran dengan satu saluran siaran pada satu cakupan wilayah siaran”. UU tersebut juga telah memiliki aturan pelaksanaannya yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No.52/2005 tentang Penyelenggaraan penyiaran Lembaga Penyiaran Berlangganan terdapat di pasal 35 mengenai pembatasan kepemilikan silang.
“Selama bertahun-tahun Indonesia dibiasakan dengan ekonomi yang sangat sentralistik, hal itu menjadi pengaruh di dalam pemusatan stasiun televisi di Indonesia,” ujar Taufik Ahmad. Monopoli juga dibagi menjadi dua yaitu monopoli kepemilikan dan monopoli pasar. Dia juga mengatakan laporan tentang cross ownership di industri penyiaran khususnya televisi saat ini masih di dalam proses penanganan pelaporan atau pemberkasan.
Salah satu contoh yang disebutkan adalah MNC group yang memiliki tiga stasiun televisi sekaligus yaitu TPI, Global TV, dan RCTI. Hal ini dirasakan sebagai pelanggaran hukum oleh Kukuh Sanyoto. Sebelumnya pada tanggal 29 Oktober 2007 MPPI mengajukan somasi terbuka agar demokratisasi penyiaran terus berlangsung secara baik dan bermanfaat bagi negara.
Di dalam somasinya MNC dinilai melanggar ketentuan pasal 18 ayat (1) dan pasal 20 UU Penyiaran Jo Pasal 32 ayat (1) huruf a PP LPS yang menyebutkan “Pemusatan kepemilikan dan penguasaan Lembaga Penyiaran Swasta jasa penyiaran televisi oleh satu orang atau satu badan hukum, baik di satu wilayah siatan maupun di beberapa wilayah siaran, si seluruh wilayah Indonesia dibatasi dengan sebagai berikut: a. Satu badan hukum paling banyak memiliki dua Izin Penyelenggaraan Penyiaran jasa penyiaran televisi, yang berlokasi di dua propinsi yang berbeda”.
Selain itu PT Surya Citra Media Tbk (SCM) juga disoroti oleh MPPI. Perusahaan yang merupakan pemilik dari Lembaga Penyiaran Swasta SCTV dan Lembaga penyiaran Swasta O Channel juga akan membeli Lembaga Penyiaran Swasta Indosiar. “Hal ini sangat menyedihkan, semua orang berlomba-lomba untuk mencari celah dalam UU tersebut agar bisa melancarkan bisnisnya,” ujar Kukuh.
Sementara itu Don Bosco mengatakan pemusatan stasiun televisi tidak dapat dihindarkan, karena merupakan lahan bisnis dan masyarakat menginginkan teknologi yang efektif. Hal yang terjadi saat ini adalah sebuah perseroan terbatas berhak menjual sahamnya kepada orang lain. “Ketika media televisi menjual kepada sebuah perusahaan, itu tidak menjadi masalah,” ujarnya. Dia juga menambahkan itulah sebabnya perusahaan seperti MNC dan SCM tidak bisa diseret ke pengadilan. “Karena MNC adalah sebuah perusahaan, jadi mereka berhak untuk memiliki saham seluruhnya dari berbagai media. UU penyiaran hanya mengatur jika sebuah lembaga penyiaran yang mempunyai lembaga penyiaran lainnya,” ujarnya.
Sementara itu Freddy H. Tulung, mengatakan bahwa semenjak adanya somasi dari KPPI, pemerintah terus membenahi UU penyiaran. “Saya akui bahwa undang-undang penyiaran sangat lemah dan tidak konsisten, maka dari itu kami akan mencarikan jalan keluar dari monopoli media ini,” ujarnya.
Taufik Ahmad berkomentar bahwa semua pihak seharusnya terlebih dahulu mengetahui monopoli macam apa yang akan dicegah. Mereka harus membedakan monopoli kepemilikan dan monopoli pasar. Jika MNC dan SCM memonopoli kepemilikan media di Indonesia, bukan berarti mereka bisa memonopoli pasar. “Mempunyai tiga stasiun televisi belum tentu bisa menguasai pasar sehebat satu stasiun televisi yang mempunyai program yang bagus,” ujarnya.
Dia menambahkan untuk masalah cross ownership yang telah diajukan, pada bulan Mei KPPU akan mengumumkan kepada publik apakah persolaan tersebut masuk ke dalam yurisdiksi KPPU atau tidak. KPPU juga telah melakukan kajian terhadap industri penyiaran secara umum dan secara khusus terhadap cross ownership di industri pertelevisian.
Selain itu Ahmad juga mengatakan permasalahan cross ownership media lebih banyak menyentuh efek kepemilikan terhadap perkembangan persaingan dalam industri penyiaran serta kepentingan umum. Maka dari itu KPPU harus membuktikan pengendalian oleh pemilik yerhadap lembaga-lembaga penyiatan, dampak negatif terhadap perkembangan industri penyiaran, serta dapat merugikan kepentingan umum atau tidak. (rahma regina)
Jadi Wartawan itu Banyak Cobaannya..Fyuuh..
Semalem, ada sms dari redaktur..”Regina, kamu datang liputan besok jam 12 di ***** (disensor biar aman) ketemu mba ****(disensor juga) yak!”. Saya pikir cuma liputan biasa aja.
besoknya saya langsung dateng ke tempat itu dengan pengetahuan jalan seadanya dan mulut yang bisa nanya (maklum, biasanya cuma jadi wartawan yang ngumpulin berita dari Wire, buat halaman internasional,heheh).
dalam pikiran saya, acara ini sangat penting karena merupakan pesenan dari bos, tapi ternyata cuma acara poin berhadiah sebuah trade center dan dia mau ngumumin tentang pemenangnya. disana banyak laah wartawan2 pada ngumpul dan saya menikmati saat-saat tersebut karena selama ini cuma dikannnnntooor doank terus melototin komputer.
yaa..saya pikir, tulis aja laah, mau dimuat ngga dimuat yaa..terseraah redaktur kan??. Terus pas mau pulang, ternyata pihak EO-nya manggil kita kemudian ngasie merchandise, di dalemnya ada amplop. waah..saya ngga tau donk..pas naek busway, saia liat itu amplop dan saya buka..weleeeeeeeh…weleeeeeeeeeh…ternyata duit sebesar 100.000 rupiah…
waduuuh…buiiingung setengah mati..mau balik lagi yaaa..maluuu..
saat itu saya teringat ama temen kos saya yang bilang kalo wartawan di Jakarta ini biasa banget nerima amplop. jujur..setelah memegang duit itu, langsung kepikiraan “waaah, gw tilep aja yaak..lagian gaji gw kan dikit banget, lumayaaan..” sumpah..ngga muna gw masukin tu duit ke dompet..whahahahahaha…paraaah..
Tapi setelah ke kantor dan bilang ke redaktur, ngga sampe hati gw boong. akhirnya dengan terbata-bata dan takut dimarahin, saya bilang “euuum..tadi eo-nya ngasih duit mas, ini saya serahin ke mas,” ujar saya.
“Astagfirullah Reginaaaaa…..apa-apaan kamu, kamu harusnya jangan ngambillll..waduuuh…kenapa sie kamu ambil?? lain kali kamu ngga boleh ngambil amplop!! denger ga??” ujar mas Aria, redaktur saya yang nyuruh liputan. dengan polosnya saya hanya menunduk kaku. “sekarang gini aja, kamu kasih duit ini ke sekretaris redaksi, biar dia yang mengurus masalah ini, entah mau dikembaliin atau gimana!yak!!?? lain kali kamu tolak!!”
akhirnya saya serahkan duit itu ke sekretaris redaksi, hehehe..tapi setidaknya gw jujur walaupun tu duit sempet masuk ke dalam dompetku..eo kurang ajar!!!
But anyway..ini pengalaman yang ngga akan saia lupain seumur hidup. ternyata jadi wartawan di Jakarta ini emang banyak godaannya. Bisa aja tu duit saya simpan sendiri, terus besok-besok terima lagi..tapi yang jelas itu adalah salah satu praktek suap, jadi apa bedanya ama Urip? ya kan?? kalo mau disuap kenapa jadi wartawan, meningan jadi anggota DPR, suapannya ngga nanggung-nanggung kaya gitu? tul kan??
waduuh, kota ini emang penuh kebusukan, ampe wartawan juga kena suap. saya harus menjaga diri ini..memang ternyata jadi wartawan itu juga banyak cobaannya. jadi agak sedikit ngerti bagaimana posisi mental indonesia yang ada di kursi rakyat dengan suap yang menunggu sana sini. kalo sudah kaya gini, siapa yang mesti disalahkan?? ayooo??? siapa???
Teman Bali makes me Cry..
Di saat “magic hour” memberikan keindahannya lewat jendela gedung tempat kerja, handphone saya berdering. Ringtone yang baru saya pilih membuat saya tersenyum karena lagu Amy Diamond yang ”Stay My Baby” membawa ruh saya kembali ke masa-masa “nakal” di Bali. Senyum saya semakin merekah ketika saya melihat ada nomor Bali yang menelpon.
Dengan logat bali yang kental dia masih berbicara dengan pacarnya di sebelah “sing dijawab nok telpon raga!! (ngga dijawab lho, telpon saya!) ”. Saya mengulum senyum dan berkata,
”engken?? nyen neh?? (ada apa? sapa neh?)”,
“eh, Halo..beh km ngga kenal ama temen lama di Bali??”
bibirku bergerak liar mencari sudut untuk mengembangkan senyum untuk lebih lebar lagi. Sungguh tidak lama untuk mengetahui suara teman seperjuanganku di Pers Mahasiswa Akademika Unud dulu, Lenyot.
“Ya Allah, Lee…gila kangen banget aku sama kamu, gimana akademika? gimana pacarmu?? denger-denger semua berjalan dengan sangat lancar ya?? waduuuh..aku pengen ke bali lagi,” serobot ku.
Lenyot, salah satu orang yang mengisi hidupku di Bali. Jujur, kenangan konyol selalu terbesit ketika mengingat bocah yang satu ini, bahkan kenangan yang menyenangkan jauh lebih banyak dibandingkan dengan pacarku sendiri dulu.
Bukan, bukan senang seperti ketika menerima telpon dari pacar. Aku pikir inilah arti teman sebenarnya, teman seperjuangan. Teman yang diajak nonton konser dengan hanya bermodal kartu pers mahasiswa, teman yang diajak berdebat hingga pagi di rumah merah kami, akademika, teman yang menyaksikan air mataku mengalir ketika bingung memikirkan bagaimana sikap ke pacarku, teman untuk mendiskusikan hidup, teman berjuang mencairkan dana ke rektorat, dan banyak hal-hal lainnya yang membuatku tersenyum mengenangnya.
Tidak terasa senyumku membawa tangisan. Tangisan ingin kembali menemui masa laluku. Aku ingin sekali kembali ke masa kuliah dan melakukan kekonyolan-kekonyolan dulu. Suara lenyot membuatku merindukan diriku yang dulu, seorang Regina yang dengan “sok”nya berbicara negara mau runtuh di kampus bersama dengan teman-teman sok yang lain.
semuanya membuatku ingin kembali ke masa-masa enak seorang mahasiswa.
Aaaah..tetapi semuanya telah hilang. Yang aku bisa hanyalah mencium bau-bau yang tersisa. Aku tidak bisa kembali ke masa itu karena semua itu adalah masa-masa yang semu.
Setelah bekerja, nyaris tidak akan menemukan orang yang tulus seperti itu. semuanya bertindak dengan maksud jelek di balik sikap manisnya. perlahan, mentalku dipaksa untuk menjadi busuk, aku berusaha mati-matian untuk mempertahankan diriku, tetapi tidak bisa. aku tidak akan bisa bertahan jika tidak tega.
Seorang teman berkata, “hidupmu dimulai ketika kamu bekerja sayang, karaktermu baru bisa terbentuk disana,” ujarnya.
Aku menangis..menangis sambil mendengar suara temanku yang masih kuliah di Universitas Udayana. Semua karena aku hampir kehilangan Regina dulu, Regina yang masih berpikir semua orang baik, Regina yang masih berpikir sederhana. Regina itu telah hilang..dan tangisku semakin kencang ketika mengetahui temanku juga akan mengalami hal ini..
aaah..kemudian aku berpikir “Pantas saja seseorang mengimpikan menjadi Peter Pan, mereka tidak perlu berubah.”
Cat Tembok di Atas Kanvas
Di pantai double six, Rino (42) melakukan negosiasi dengan turis Australia, kemarin. Tawar menawar pun berakhir dengan terjualnya satu lukisan bertemakan pemandangan Tanah Lot seharga Rp. 300.000. Lukisan di atas kanvas dengan berbagai tema ini ia jajakan setiap harinya mulai pukul 9 pagi hingga pukul 6 sore. Tidak seperti lukisan biasanya yang memakai cat minyak, acrylic ataupun pastel, pelukis ini menggunakan campuran antara cat minyak, cat tembok dan cat kayu di atas kanvasnya.
pelukis yang mempunyai tempat mangkal di pantai double six ini memang menggunakan cat tembok dan cat kayu sebagai campuran kedalam cat minyak yang ia gunakan untuk melukis. Rino mengaku ia menggunakan campuran cat tembok dan cat kayu itu dikarenakan untuk mengurangi biaya yang harus ia keluarkan untuk membuat sebuah lukisan. “Kalo saya harus memakai cat minyak semua, ya ngga balik modal mbak,” ujarnya. Ia juga mengatakan bahwa lukisan yang dibuat masih tetap terlihat indah walaupun memakai campuran cat tembok dan kayu.
Pelukis lainnya yang bernama Made pun mengakui bahwa ia mencampur cat minyak dengan cat kayu dan tembok. Ini dikarenakan harga cat minyak akan menjadi tidak terjangkau jika ia menggunakannya untuk seluruh lukisan. “Harga cat minyak juga sekarang udah mahal mbak, jadi kita cuma nyampur sedikit aja cat minyaknya, yang lebih banyak kita campur itu cat kayu,” imbuhnya.
Mahalnya harga cat minyak membuat mereka terpaksa mencampurnya dengan cat tembok dan cat kayu. Mereka mengakui bahwa setelah mereka menggunakan cat tembok dan kayu, pengeluaran yang mereka harus keluarkan agak berkurang. Selain membeli kanvas, pelukis-pelukis ini juga harus mengeluarkan biaya untuk alat lukis dan cat minyak. Karena itu mereka harus menekan biaya dengan cara mencampur cat minyak dengan cat tembok dan kayu.
Walaupun mereka menggunakan cat tembok dan kayu, lukisan mereka tetap dinikmati oleh beberapa wisatawan. “itu tergantung seberapa bagus kita melukis mbak,” ujar Rino. Rino juga mengakui bahwa cat tembok ataupun cat kayu terkadang mempunyai kelemahan tersendiri ketika dioleskan ke kain kanvas. “Cat tembok dan kayu, terutama cat temboknya agak tidak menyatu dengan kanvas, dan kita memang harus sabar untuk menunggu keringnya,” ujarnya. Rino telah menjalankan profesi ini selama 20 tahun, pada awalnya ia selalu menggunakan cat minyak akan tetapi untuk menekan pengeluaran ia mulai mencampurkannya dengan cat tembok dan cat kayu.
Seorang turis Australia bernama Jessie, mengatakan bahwa ia tidak tahu menahu soal cat tembok atau kayu yang dioleskan ke lukisan yang ia baru saja beli tersebut. “Yang saya tahu hanya lukisan ini sangat indah, bahkan saya baru tahu ketika anda mengatakan hal tersebut,” ujarnya ketika ditanyakan tentang perihal tersebut.
Harga cat minyak mengalami kenaikkan sejak sepekan terakhir. Saat ini seratus gram cat minyak dijual di tingkat pengecer seharga Rp 3.200. Ini menyebabkan makin maraknya penggunaan cat kayu dan cat tembok dikalangan pelukis di pinggir pantai.
Pelukis-pelukis ini menjajakan lukisannya dengan cara menawarkan gulungan-gulungan lukisan kepada turis baik itu mancanegara ataupun domestik. Mereka juga menawarkan jasanya untuk melukis foto langsung di tempat. Mereka menjual lukisan dengan harga Rp 65.000 – 200.000 per buah untuk wisatawan domestik sedangkan mereka menjual lukisan dengan harga Rp 100.000 – Rp 600.000 per buah untuk wisatawan asing.
Made juga mengatakan bahwa turis asing yang menyukai lukisannya kebanyakan berasal dari Australia dan tidak jarang mereka membeli lukisan sebanyak 4-5 sekaligus untuk dibawa kenegaranya. Sedangkan turis domestik tidak begitu berminat dengan lukisan-lukisannya yang kebanyakan bertemakan pemandangan alam Bali. “mereka biasasnya memesan lukisan foto,” tambahnya. (rahma regina)
Radio Anak Muda Swasta Bali, Krisis Idealisme
Saat ini kita dihadapkan dengan media yang menjadi buta karena mengejar rating, makin susah kita mencari media yang cepat menanggapi wacana yang terjadi di dalam masyarakat. Salah satu media yang paling dekat dengan masyarakat terutama anak muda adalah radio, tetapi pada kenyataannya kita kehilangan radio anak muda yang bisa memberikan informasi yang bermanfaat dan membentuk pola pikir mereka.Radio dikategorikan sebagai salah satu media yang digunakan untuk memberikan informasi kepada massa, layaknya media elektronik dan Surat Kabar. Seperti idealnya sebuah media, radio juga diharapkan menjadi peran sebagai pengumpul dan Bank informasi yang disebarkan lewat audio kepada para pendengar. Informasi yang dimaksud adalah informasi yang tentunya berguna bagi masyarakat hingga terbentuk opini publik. Tapi inilah yang hampir lenyap di dalam dunia radio anak muda kita khususnya di Bali. Kenapa bisa dibilang hampir lenyap?? Karena hampir seluruh stasiun radio swasta yang ada di Bali tidak mempunyai tujuan pendidikan, kebanyakan dari mereka mengambil segmen-segmen sendiri yang bertujuan hanya untuk menghibur. Info yang diberikan pun adalah info yang bersifat menghibur, hanya sebatas tips-tips kacangan sampe info selebriti yang sedang ngetrend. Jika kondisinya seperti itu, apa bedanya radio dengan stasiun televisi yang sekarang telah kehilangan fungsinya sebagai media yang kritis, cerdas dalam menganalisis wacana, dan membentuk opini publik? Kita bisa mengatakan hampir tidak ada. Bahkan radio bisa dibilang lebih mempunyai dosa-dosa yang membuat masyarakat tidak berpikir lebih kritis. Padahal radio bersifat lebih dekat dan personil kepada pendengar, yang bisa dimanfaatkan untuk menanamkan pemikiran-pemikiran yang positif sehingga terbentuklah karakter yang kritis di dalam masyarakat . Bergerak ke stasiun radio swasta di bali, “tidak ada isi”, kalimat ini dirasakan tepat untuk kondisi radio swasta-radio swasta ini. Setiap radio anak muda hanya memikirkan bagaimana ratingnya naik, maka akan dilakukan apa saja. Bahkan ada radio swasta, yang selama 19 jam per hari membuka jam request, demi mendapatkan pamor. Sungguh sayang, apalagi kebanyakan mereka menaruh segmen di anak-anak muda. Memang ada beberapa yang membuka telepon untuk memberikan opini tentang tema yang mereka angkat, akan tetapi sekali lagi saya katakan bahwa tema yang diangkat tidak jelas, bersifat fiktif dan menggiring masyarakat, khususnya anak muda di dalam kebodohan. Ini sangat disayangkan, apalagi anak-anak muda seharusnya ditanamkan berita yang sifatnya informatif bukan hanya sekedar menghibur, apalagi mengingat sangat mudah untuk masuk ke dalam dunia mereka, aset ini sangat luar biasa untuk pembentukan karakter anak muda, jika radio bisa dan mau untuk mengemban misi ini, bukan hanya meletakkan rating di atas segala-galanya, kita akan mempunyai anak muda yang mempunyai karakter yang kuat dan peka terhadap isu dan wacana.Kemanakah kekritisan media? apalagi radio adalah media yang paling dekat dengan anak muda. Radio yang ada di Bali sekarang telah menjadi budak rating, sehingga mereka tidak perduli apa yang mereka tanamkan ke anak-anak muda di Bali asalkan rating mereka naik, dan akhirnya bisa “menjual”. Padahal sebenernya radio bisa dijadikan media jurnalisme alternatif dengan memunculkan kekritisan di dalam satu wacana yang terjadi di dalam masyarakat. Janganlah berbicara tentang masyarakat nasional, cukuplah berbicara tentang keadaan dan wacana yang ada di masyarakat lokal. Padahal cukup banyak yang bisa diangkat dalam lingkup sosial di masyarakat. Tidak heran kenapa anak muda di Bali jarang yang cerdas, jika seperti ini kondisinya, tegakah anda membiarkan anak anda mendengarkan radio?? Televisi pun begitu, sebenernya ada apa dengan media sekarang ini. Semenjak pemerintahan orde baru pelaku jurnalistik berteriak dengan gembira bahwa mereka bebas dari belenggu yang selama ini mengikat mereka di dalam kebebasan memberikan informasi. Bebas? Yap, bebas, bahkan terlalu bebas. Kita akui bahwa masyarakat perlu hiburan, mereka marah, tapi bukan berarti membodohi masyarakat. Ketika dibahas tentang ini, pelaku medialah yang menyalahkan pasar karena ketergantungan mereka dalam mencapai penghasilan. Bagaimanapun mereka butuh biaya operasional dan keuntungan tentunya sebagai bonus.Pemikiran ini yang harus dirubah, jurnalisme mainstream sangat menjebak pemikiran-pemikiran masyarakat ke arah yang mudah dan tidak melatih ke arah yang lebih kritis. Satu-satunya cara adalah mengenal jurnalisme mainstream yang masih mengandalkan substansi untuk menganalisis wacana dan melemparkannya ke masyarakat agar masyarakat bisa menilai hingga terbentuk opini publik, disinilah letak fungsi radio. Untuk radio di bali yang sangat dekat dengan anak muda, akan sangat memprihatinkan apabila mereka tidak mencontohkan yang baik dan tidak mempunyai isi dan pesan yang diberikan kepada segmen anak muda.
Telur atau ayam
Ketika berbicara tentang radio anak muda yang beralih ke mainstream, jadi ingat tentang mitos telur atau ayam. Mitos ini mempertanyakan apakah ayam atau telur yang muncul terlebih dahulu. Pertanyaan seperti ini juga berlaku untuk radio anak muda, apakah pasar yang menentukan karakter radio anak muda kita, atau radio kita lah yang membentuk karakter anak muda sekarang. Di satu pihak menyatakan bahwa budaya hedon yang terjadi di kalangan anak muda, menyebabkan radio tidak mau mengambil resiko turun rating jika mereka mengambil berita atau tema yang sedikit “berat”. ketakutan pelaku broadcasting adalah pada saat penikmat mereka tidak mau untuk berpikir sedikit lebih keras, untuk mengolah informasi yang bisa dikatakan mempunyai porsi yang agak berat, maka dari itu mereka memutuskan untuk mengikuti selera pasar. Sebaliknya ada beberapa tanggapan yang mengatakan kalau radiolah yang membuat anak muda di Bali ini menganut aliran hedon, radio menanamkan budaya praktis dan selalu menanamkan pemikiran yang mudah serta menonjolkan wacana yang tidak penting. Perdebatan ini terus terjadi, seperti lingkaran setan. Pertanyaannya adalah, apakah masih ada radio anak muda yang mengangkat wacana yang setidaknya berguna untuk anak muda.
Radio komunitas
Bagaimanapun juga radio membutuhkan iklan, karena radio mempunyai biaya produksi dan bersifat komersial dan profesional, sangat jelas akan bergantung dengan bagaimana selera pasar, akan tetapi jika radio ini makin menuruti selera pasar yang tidak mendidik, ini juga akan menjerumuskan anak-anak muda yang rata-rata menjadi pendengar aktif. Ini bisa disiasati dengan penyampaian yang lebih mudah dan lebih masuk ke pemikiran anak muda. Bahkan kesempatan ini bisa diambil pihak pelaku radio untuk membuat pola pikir anak muda yang lebih cerdas dan berkarakter.
Mungkin apabila radio yang bersifat profesional, akan sedikit sulit untuk mengembangkan pemikiran idealisme anak muda yang kritis, karena bagaimana pun mereka mengejar klien untuk pembiayaan produksi. Lagi-lagi kita dihadapi dengan idealisme versus komersialisme. Solusi yang bisa kita ambil adalah membuat radio komunitas yang tidak tergantung oleh pasar dan menjadi budak rating. Radio seyogyanya mempunyai sikap dan bisa memberikan informasi yang tidak Cuma sekedar menghibur dan informatif tapi juga bersifat edukasi, sifat inilah yang belum ada di kalangan radio anak muda di Bali. Radio komunitas di Bali memang sudah ada, tetapi itu hanya menjadi radio yang pendengarnya sangat minim, ini membuat kita berpikir bagaimana agar radio komunitas ini bisa didengar oleh anak muda di Bali. Kita mengetahui bahwa, anak muda di Bali kurang berdiskusi dan tidak peka terhadap isu-isu yang ada. Radio komunitas mempunyai kesempatan untuk membentuk karakter mereka agar setidaknya bisa menjadi karakter yang gemar berdiskusi, setidaknya mendiskusikan apa yang terjadi di lingkungan mereka.
Radio komunitas bisa dibentuk dari institusi sekolah atau kampus, selama ini peranan radio komunitas di lingkungan sekolah kurang dimanfaatkan. Terbukti dengan waktu on air yang tidak tetap, dan format yang belum jelas, padahal apabila ditanggapi dengan serius, kesempatan untuk menjadikan radio komunitas di masing-masing sekolah ataupun kampus sebagai tempat yang nyaman untuk berdiskusi sangat besar. Sehingga, radio-radio ini bisa membentuk budaya baru di lingkungan siswa dan mahasiswa dan dengan sendirinya, jika forum-forum diskusi terbentuk, maka akan ada pemikiran-pemikiran kritis yang akan muncul sehingga kita akan mempunyai generasi muda yang tangguh.
-
Recent
- akhirnya gw bisa bikin blog lageee…
- kangen blog gw
- Gawaaat!!!!
- The Day the Earth Stood Still, Cocok Buat yang Cinta Lingkungan
- Jangan Rusak Baliku…
- Hey Boz!!!!! What Do You Want From Me??
- Al-Azhar Indonesia Foundation, Serving High Quality Education Basic on Islam Principles
- Pemerintah bikin Bicycle Line Tahun Depan, Solusi atau Masalah???!!
- Hukuman Mati Untuk Para Koruptor, pantaskah?
- Astagfirullah, 9/11 versi mumbai..
- Jakarta People, Becareful When You Want to Take A Bus!
- Zuhal, Profesor yang “Menjual” Pendidikan
-
Links
-
Archives
- August 2009 (1)
- May 2009 (1)
- December 2008 (6)
- November 2008 (5)
- September 2008 (2)
- August 2008 (4)
- April 2008 (6)
- March 2008 (2)
- February 2008 (5)
- December 2007 (10)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
