Udin, Anak Jalanan Penyelamatku
Kadang seseorang lupa betapa beruntungnya mereka hidup di dunia ini. Mereka terlalu terlena dengan rezeki yang telah diberikan Tuhan sepanjang hidupnya. Mereka tidak pernah berpikir dengan kehendaknya semua yang mereka miliki bisa saja musnah. Dan aku yakin bahwa orang-orang seperti itu tidak akan sanggup menahannya. Aku termasuk di dalam orang-orang tersebut.
Aku selalu mengeluh, ya Tuhaan…kenapa kerjaanku sebegini sulitnya?? Ya Tuhan kenapa atasanku tidak mengerti posisiku? Ya Tuhaan..kenapa begitu sulitnya Kau beri cobaan ini? Aku selalu menyalahkan Tuhan tanpa berpikir bahwa aku bisa tidur di tempat yang nyaman, aku bisa makan makanan yang layak, aku bisa menikmati nikmatnya kesehatan yang diberi..tidak terpikir sedikit pun bahwa seharusnya aku bersyukur kepadaNya atas nafas yang diberikan.
Baru saja kemarin, aku merasakan bahwa hidupku sangat kacau karena diomelin atasan, kerjaan tidak pernah beres, ngerasa sebagai pecundang dan tidak berguna. Baru saja kemarin aku tidak mensyukuri hidup yang diberikanNya kepadaku. Baru saja kemarin aku ngambeg kepadaNya, tidak mau lagi memohon kepadaNya. Baru saja kemarin aku merasa tidak beharga sebagai manusia.
Tetapi memang Dia masih sayang kepadaku. Dia masih menegurku dan memberi tahu dengan caranya sendiri. Hari ini, aku mengalami hal yang luar biasa. Terima kasih kepada Udin, anak mungil yang jadi perantaraNya. Terima kasih banyak, aku berhutang kepadanya.
Cerita berawal tadi sore, ketika aku pulang dari kantor. Keadaanku sangat kacau. Pekerjaan yang tidak aku kuasai, kemudian pacar yang mulai gerah terhadap gerak gerikku. Ketika aku merasa tidak mempunyai sedikitpun dari kehidupanku yang aku bisa syukuri. Aku kerja di sebuah majalah, majalah pendidikan berbahasa inggris. Dari luar sie keliatannya oke, tapi ternyata prestasiku tidak sebagus yang kukira.
Penyesalan selalu ada di benakku karena aku harus memutuskan untuk keluar dari mediaku yang lama yaitu koran Seputar Indonesia. Aku keluar dari sana karena aku memikirkan tentang masa depanku untuk menikah dengan qiqi, asisten redactur biro Palembang yang jika kami teruskan rencana kami maka salah satu dari kami harus keluar dari kantor itu.
Aku memutuskan keluar karena aku berpikir karirku masih sangat dangkal disana. Majalah Campusasia ini menerimaku, tapi ternyata keadaan tidak semulus yang aku kira. Keadaan kantor sangat menyiksaku, karena aku tenggelam akibat pemredku pilih kasih (setidaknya menurutku). Dia lebih seneng “ngopenin” temen seangkatanku candyce.
Well, jelas hal ini sangat menekanku, apalagi ditambah dengan rasa sentimennya terhadapku. Puncaknya adalah ketika kemarin, saat aku diberikan tugas sekretaris redaksi, yaitu membuat surat permohonan liputan ke kedubes Australia. Dan untuk itu saja aku dimaki-maki di depan teman-teman. Harga diriku terinjak-injak.
Disinilah saat-saat dimana aku marah dengan Tuhan. Aku marah karena ketidakadilan yang ada di hidupku. Aku marah karena aku tidak bisa melawan. Aku marah karena tidak terima, mengapa kehidupan mereka jauh lebih baik dariku. Aku bahkan berpikir, percuma aku tungging-tunggingan sholat lima waktu setiap hari, hanya untuk dihina seorang timor yang belagu dan sangat sombong itu.
Namun amarah itu padam karena Udin. Aku yakin dia adalah perantara yang sengaja Tuhan berikan untuk memberikan penjelasan kepada amarahku. Selama ini aku kurang bersyukur..
Jadi tadi sore, entah kenapa, tumben-tumbennya aku meminta koran investor daily dari kantor dan memang kebetulan koran itu ada dan masih dibungkus (dilipat kemudian dibungkus kertas). Naah..itu koran aku ngga buka karena ketunda rapat redaksi sampai pulang. Otakku sudah panas, bahkan sampai selesai rapat, masih ada kerjaan yang aku tinggal, karena calon suamiku mulai tidak suka pekerjaanku.
Aku pulang dengan buru-buru, dengan harapan supaya qiqi ngga marah (walaupun pada akhirnya tetap marah). Karena koran itu masih dibungkus, aku bawa pulang koran itu dengan harapan aku bisa membacanya di kosan.
Entah kenapa pula, aku tidak mau memasukkan koran itu ke dalam tas. Aku membawanya di tangan kiriku sembari membawa motor. Sembari berpikir, betapa kesalnya aku dengan hidupku, aku masih menenteng koran tersebut hingga lampu merah menuju Tugu Tani. Di lampu merah aku berhenti di depan line zebracross karena kebetulan lampu merah tersebut baru menyala, jadi aku berada di barisan depan.
Dari kejauhan aku memandang langkah gontai anak kecil berusia kira-kira enam tahun. Aku sangat yakin dia sangat kecil untuk seumurannya. Dengan matanya yang sangat polos, dia melihatku dan koran yang aku pegang secara bergantian.
Anak itu ada di sebelah kananku karena dia berada di trotoar. Tanpa disangka tau-tau dia sudah berada di sebelah kiriku sambil menatapku. Dia bertanya,
“Mba, itu koran yah?”
Karena kaget aku bertanya kembali, “Apa dek?”
Dia kemudian kembali menanyakan dan kali ini sambil menunjuk koranku “Itu koran ya mbak?”
Astaga, aku berpikir kenapa anak ini tiba-tiba nanyain koran, aku kira dia akan menadahkan tangan dan meminta-minta seperti anak pengemis lainnya. Apakah dia menginginkan koran ini?
Aku kembali bertanya “Iya, ini koran, emangnya kamu mau?”
“Iya mba,”
Ya Tuhaaan…Subhanallah,,he’s just a kid, sangat terlihat dia kurus dan kurang gizi, tapi aku yakin dia akan menjadi pemuda yang tampan karena parasnya masih menarik walaupun kumal.
Aku tidak serta merta memberikan koran tersebut, aku kembali bertanya sambil ditatap oleh kedua mata yang sangat polos itu.
“Lho, emangnya kamu buat apa dek,” ujarku
“Buat tidur!”
Astagfirullah..seperti disambar petir rasanya. Entah aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku. Sepertinya aku sudah benar-benar tertampar. Pikiranku langsung melayang. Tuhaan, anak sekecil ini harus beralas koran pada tidurnya, sedangkan aku bisa nyaman di kasur empuk? Segitu beratnya kehidupan sang anak tetapi tidak ada satu pun dalam tatapannya dia menghujatMu Tuhan. Sedangkan aku? Aku yang bisa tertawa sana sini, tidur enak, makan enak, sama sekali tidak bersyukur akan itu?
Aku langsung memberikan koran itu, kepadanya.
“Ya udah dek, ini! Udah sana, jalan lagi, takutnya keburu ijo, ntar ketabrak lagi!”
“Iya, makasie ya mbak!”
“Namamu sapa?”
“Udin Mbak,”
Namun sempat dilihatnya koran itu, kemudian dia kembali bertanya, “Mba ini koran baru?”
“Iya, ini koran hari ini dek,” aku tahu pasti dalam pikirannya koran itu bisa dia jual kembali dan mendapatkan uang, mungkin akan lebih untung. Kemudian pada waktu dia membalikkan badan aku sentuhlah punggungnya. Semakin sedih aku pada saat mengetahui, bahwa tulang bahu dan belikatnya sangat menonjol, pertanda dia terlalu kurus untuk seukurannya.
Air mataku mengalir saat itu juga ketika aku melihatnya berlalu..kuputuskanlah meminggirkan motorku dan mengejarnya.
“Udin!!Din!!” teriakku.
Dia membalikkan badan dan menghampiriku yang setengah berlari menghampirinya. Sambil bersujud untuk menyetarakan diriku dan dirinya. Sambil menyembunyikan air mataku, aku bertanya “Din rumahmu dimana?”
“Di kolong Mbak,” katanya polos.
“Di kolong mana Din,” tanyaku
“Tuuh, di pasar rumput,” ujarnya.
“Ibu?”
“Disitu juga Mbak, saya hari ini sendiri, soalnya Bapak lagi sakit, Emak yang jagain,” masih dengan pandangannya yang polos dan parasnya yang tampan.
Aku keluarkan lembaran uang sepuluh ribu dan kuberikan kepadanya,
“Makasie banyak ya Din,”
Dengan senyum yang lebar dia pergi begitu saja.
Adegan singkat itu sangat berarti buatku. Udin menyadarkanku betapa tidak bersyukurnya aku terhadap rizki yang diberikan Tuhan kepadaku. Belakangan aku menyesal hanya memberikan uang sepuluh ribu. Apa yang dilakukannya tidak ternilai.
Terima kasih Udin. Terima kasih..Kau tidak akan pernah sadar bahwa kau menyadarkan seseorang Din. Kau mendekatkan kembali orang kepada Tuhannya. Udin, aku selalu berdoa untukmu. Mudah-mudahan Tuhan menyelamatkanmu. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi Din, supaya aku bisa membalas jasamu.
Tuhan, selamatkanlah dia..dan Terima kasih banyak ya Allah, kau tetap merangkulku. Terima kasih.
30 Oktober 2008
1 Comment »
Leave a comment
-
Recent
- akhirnya gw bisa bikin blog lageee…
- kangen blog gw
- Gawaaat!!!!
- The Day the Earth Stood Still, Cocok Buat yang Cinta Lingkungan
- Jangan Rusak Baliku…
- Hey Boz!!!!! What Do You Want From Me??
- Al-Azhar Indonesia Foundation, Serving High Quality Education Basic on Islam Principles
- Pemerintah bikin Bicycle Line Tahun Depan, Solusi atau Masalah???!!
- Hukuman Mati Untuk Para Koruptor, pantaskah?
- Astagfirullah, 9/11 versi mumbai..
- Jakarta People, Becareful When You Want to Take A Bus!
- Zuhal, Profesor yang “Menjual” Pendidikan
-
Links
-
Archives
- August 2009 (1)
- May 2009 (1)
- December 2008 (6)
- November 2008 (5)
- September 2008 (2)
- August 2008 (4)
- April 2008 (6)
- March 2008 (2)
- February 2008 (5)
- December 2007 (10)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
wew!!! kisahmu ini bener2 menyentuh hati sis.
I hope you meet that kid again.