Hukuman Mati Untuk Para Koruptor, pantaskah?
“Dalam KomnasHam sendiri, masih ada perdebatan tentang patutkah pelaksanaan hukuman mati di Indonesia. Kalau sekarang mau ditarik ke kasus para koruptor, kita harus duduk bersama dulu dan menyepakati apakah mereka memang pantas untuk dikategorikan penjahat untuk dijatuhi hukuman mati.” Nur Kholis, anggota KomnasHam.
Kalimat ini dinyatakan dengan tegas oleh Nur Kholis ketika berbicara hukuman mati kepada koruptor. Selama ini, menurutnya dalam KomnasHam sendiri masih ada yang menolak hukuman mati, sebagian lagi menerima dengan syarat jika hukuman tersebut tidak bisa digantikan dengan hukuman yang lain. Sekarang, ketika hukum di Indonesia ditarik untuk menjatuhkan hukumna mati kepada para koruptor, maka harus ditarik kesepatakan dulu, apakah tindakan korupsi itu memenuhi kriteria untuk para calon penerima hukuman mati.
Selama ini di Indonesia hukuman mati diberikan kepada orang-orang yang dengan sengaja melakukan praktek genosida (pembantaian besar-besaran yang sistematis kepada suatu suku bangsa) dan kejahatan terhadap kemanusiaan. “Nah, apakah korupsi termasuk ke dalam dua kriteria tersebut? maka kita harus sepakati terlebih dahulu,” ujarnya.
Dia menyatakan, dalam interpretasinya korupsi tidaklah masuk ke dalam dua kategori tersebut, tetapi bukan berarti dia tidak mendukung pemberantasan korupsi. Sebagai solusi yang dia tawarkan adalah hukuman terhadap koruptor berupa penggantian ganti rugi dan denda, sehingga negara bisa mendapatkan ganti rugi yang telah diderita akibat sang koruptor.
Berbeda lagi jika berbicara tentang pendapatnya Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Marwan Effendy. Dia sangat mendukung adanya hukuman mati terhadap para koruptor karena secara tidak langsung koruptor itu membuat rakyat miskin, sehingga bisa dikategorikan menyiksa massal, ini setara dengan adanya genosida. Dia mengatakan di Indonesia sudah ada delik kepada koruptor sehingga bisa dihukum mati. akan tetapi tersangka juga harus memenuhi salah stu dari lima kriteria yang ditentukan pemerintah. Maka hukum saat ini tidak menutup kemungkinan bahwa koruptor bisa dihukum mati.
Namun, akunya tidaklah muda bagi seorang jaksa untuk menuntuk hukuman mati kepada tersangka koruptor. Selain harus memenuhi delik, dia juga harus memenuhi kriteria tertentu. “Hukuman mati kepada seorang koruptor tidak bisa dijatuhi begitu saja, harus ada pemenuhan syarat,” ujarnya di sela-sela seminar the challenges of death penalty for the corruptors, di wisma slipi, 27 November lalu.
Dia mengatakan selama ini belum ada koruptor yang dihukum mati, yang paling tinggi hanyalah hukuman seumur hidup. Uniknya, walaupun dia mendukung hukuman mati, tetapi dia tidak berani jamin hukuman tesebut akan memberikan efek jera kepada yang lainnya. “Melihat kasus, narkotika dan pembunuhan, kejahatan serupa masih saja kerap terjadi,” tambahnya. Dia mengatakan korupsi ini memang seperti layaknya perempuan cantik. Dia terlalu mempesona untuk ditolak.
Namun yang jelas, pemberantasan korupsi harus dilaksanakan secara masiv karena perkembangannya pelakunya sangat kencang. Untuk itu berbagai lapisan harus menyadari bahwa korupsi ini mesti dihentikan.
So, efektif kah hukuman mati itu untuk para koruptor??
Astagfirullah, 9/11 versi mumbai..
Semalem..biasanya laki gw kelar kerja sekitar jam 9 malem…tapi ampe jam setengah 12 gw tungguin, koq ngga nelpon2..akhirnya dia nelpon sekitar jam 12 kurang laah..gw bersiap-siap mau tidur..
“udah tidur beib?”
“baru mau…koq malem? belom kelar??”
“ada berita bagus..jadi nungguin perkembangannya, aku ngerombak halaman lagi..”
“emang berita apaan?”
“Ada teroris di mumbai yang nyerang tempat-tempat rame, ada beberapa titik.”
“o ya? (masih berpikir paling korban cuma 20an atau berapa) pake apa mereka? tembakan bededet?”
“macem-macem beib, ada tembakan plus granat, korbannya banyak, ampe sekarang aku nungguin udah ampe 125 orang tewas..sayang kalo ngga ditungguin, besok juga pasti jadi HL setiap koran,” ujarnya.
“MasyaAllah, serious?”
dan semalem aku tidur dengan pikiran, besok pagi harus baca koran cepet-cepet…
ternyata bener aja, semua koran jadiin tu berita HL. tapi baca berita itu jadi merinding. Jadi sekelompok orang yang mengaku sebagai “Deccan Mujahiddin”. mereka menyerang 10 titik yang ada di mumbai termasuk, hotel, rumah sakit, stasiun, dan kafe yang penuh dengan orang. Mereka mencari orang-orang yang berkebangsaai inggris dan Amerika Serikat untuk mereka bantai. Lebih dari 125 orang terbunuh, dan 350 orang terluka. sampai saat ini masih banyak yang di sandra.
Mereka berbicara dalam bahasa urdu, dan saksi mata mengatakan bahwa mereka masih sangat muda..dengan aksen kasmiri sambil menembaki orang-orang Inggris dan Amerika mereka mengatakan “Apakah kamu sadar atas apa yang kalian lakukan terhadap orang-orang muslim?”
lucunya, di restoran, kafe ataupun di setiap titik, ketika mereka melakukan aksinya, mereka tidak sembarangan menembaki orang. mereka hanya mencari orang-orang inggris dan Amerika. mereka mencari paspor dan barang lainnya yang membuktikan bahwa mereka adalah orang inggris dan amerika. Mereka juga menanyai satu-satu orang yang menurutnya adalah orang asing. ada seorang pria italia, ditanyai mereka “dari mana kamu?” ketika orang tersebut mengatakan “Italia” mereka meninggalkannya dan tidak jadi membunuhnya.
okey..ini singkatnya yang terjadi di India. diambil dari Jakarta Globe, Kompas, dan tempo yang aku baca. Gila..ngebacanya aja ampe serem banget dan sayangnya lagi, teroris ini kembali mengatasnamakan Islam..agak-agak gimana gitu, ge ngebaca nie berita..lantes aja di milis yang gw ikutin, comment di kompas.com, semua berdebat tentang ke agamaan ini…huh..
entah yaa…cuma apapun alasannya gw cuma memandang ini dari segi kemanusiaannya..sangat tidak manusiawi book..kasian orang-orang yang ditinggalkan. makin banyak dendam yang ada..gw cuma bisa berdoa buat orang-orang itu lah..
Jakarta People, Becareful When You Want to Take A Bus!
That title is absolutely not a joke. I write this article after i ride my motorcycle from Al-Azhar to my office in Manggarai. It’s quite a long journey, about half an hour i think. for about that long, i’ve been seen the most reckless bus driver. This bus called P67 – it takes people from Blok M to Senen, which is mean it has the same way with me. For you guys out there who want to take this bus, you should remember the police number of the bus which is B 7496 TZ. If you seen this bus, don’t take it!! please no!
The driver, for God shake almost killed everybody in that bus, including people arounds it. during its journey, the driver doesn’t care about any motorcycles or even cars around his bus. He drove that bus in the middle of the road, and when there was a passanger who stop this bus from the sidewalk, the driver suddenly turn to the sidewalk forcefully. This action makes people who drove near the sidewalk suprised and suddenly take a brake including me.
moreover the driver of this bus drove the bus with the high speed. Luckily at that time there was no accident arounds that bus, but i’m still worried with this bus. the driver could be killed everyone! i admitted every public transportations in Jakarta are reckless. But you can imagine, this bus is more reckless than ussual. it’s very frightening when we know that there are people who can killed us because of his behave.
government must do something. they had to publish a kind of rules for public transportation drivers. My God, looking they drove the bus, it’s very scary you know? it’s very dangerous. Please, anyone out there, just be careful when you want to take a public transportations in Jakarta.
Zuhal, Profesor yang “Menjual” Pendidikan
Hari ini saya bertemu dengan Bapak Zuhal, Rektor Universitas Al-Azhar. Cukup lama waktu yang harus saya lewati dengan menunggu di ruangan sekretarisnya karena dia sedang rapat pada saat itu. Pak Ridwan, sang sekretaris mengatakan bahwa dia harus melayat karena ada guru besar yang meninggal dunia. Waktu Pak Ridwan mengatakan hal itu, waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Gosh..aku pikir ngga mungkin aku bisa wawancara ama dia kalo kaya gini..
Tapi ternyata ngga tuch. pas pukul setengah 2 siang, Pak Zuhal selesai rapat, tapi dengan ramahnya dia menyambut aku dan menggiringku ke dalam kantornya. Walaupun dalam kondisi sibuk bukan main, dia mengatakan wawancaranya santai aja ngga perlu buru-buru. Alhasil saya berhasil mewawancarai dia hingga kurang lebih satu jam.
yang unik dari Bapak yang satu ini, dia menganggap bahwa pendidikan memang tidak murah, maka dari itu pendidikan memang harus dikelola seperti layaknya perusahaan. Maka dari itu universitas Al-Azhar punya tagline “interpreneur university”. Maksudnya adalah, universitas ini dikelola seperti layaknya sebuah perusahaan. Jadi universitas itu dimiliki oleh para pemegang saham yang terdiri dari yayasan, individual dan pendonor. Namun yang jelas pengelolaan ini bukan berarti berorientasi pada keuntungan. maka dari itu setiap keuntungan digunakan untuk kemajuan pendidikan (klise banget ya book!)
tapi boleh laaah..pemikiran-pemikiran kaya gini nie, yang menurut saya harus ditanamkan kepada penduduk Indonesia. Untuk menjadi pintar tidaklah murah, jadi jika ingin mendapatkannya maka harus mencari jalan untuk mencari duit supaya bisa dapet pendidikan. Hal ini menurut profesor Zuhal ngga bener juga, untuk orang-orang yang benar benar ngga mampu itu seharusnya urusan pemerintah. Jadi, universitas-universitas yang ada sekarang seharusnya bisa mandiri, nah dana yang dialokasikan kepada universitas itu baru diberikan kepada yang ngga mampu. Biar ngga salah sasaran.
selama ini orang2 indonesia malah menginginkan pendidikan semurah-murahnya ampe kalo bisa gratis. Ini kan ngga bener. kalo setiap universitas dikasie subsidi, maka yang menikmati itu orang2 yang mampu juga. pada akhirnya malah manja, mereka ngga tau seberapa besar sebenarnya harga yang harus mereka bayar untuk pendidikan tersebut.
Untung saja ada orang seperti Pak Zuhal ini, yang mendirikan universitas Al-Azhar dengan berusaha mencari rekanan untuk pengelolaan kampusnya, bukannya menggantungkan ke pemerintah lagi – pemerintah lagi..akibatnya kan universitas ini hanya dihuni ama orang2 tajir. tapi ternyata ngga juga, dia juga mengalokasikan beasiswa khusus buat orang2 yang tidak mampu. Jadi, sebenarnya Indonesia ini harus mandiri biar jangan menyalhkan pemerintah doank. Otak-otak pecundang yang hanya ingin diurusin bukannya berdiri sendiri dan cari akal agar semua bisa berjalan tanpa adanya campur tangan pemerintah.
Zuhal mengatakan jika hal ini dipertimbangkan sebagai komersialisasi pendidikan maka hal itu salah, karena orientasinya bukan pada keuntungan, tapi peningkatan kualitas lulusan mahasiswanya. Hal ini lah yang mencegah AUaI menjadi kampus yang menjual pendidikan
Udin, Anak Jalanan Penyelamatku
Kadang seseorang lupa betapa beruntungnya mereka hidup di dunia ini. Mereka terlalu terlena dengan rezeki yang telah diberikan Tuhan sepanjang hidupnya. Mereka tidak pernah berpikir dengan kehendaknya semua yang mereka miliki bisa saja musnah. Dan aku yakin bahwa orang-orang seperti itu tidak akan sanggup menahannya. Aku termasuk di dalam orang-orang tersebut.
Aku selalu mengeluh, ya Tuhaan…kenapa kerjaanku sebegini sulitnya?? Ya Tuhan kenapa atasanku tidak mengerti posisiku? Ya Tuhaan..kenapa begitu sulitnya Kau beri cobaan ini? Aku selalu menyalahkan Tuhan tanpa berpikir bahwa aku bisa tidur di tempat yang nyaman, aku bisa makan makanan yang layak, aku bisa menikmati nikmatnya kesehatan yang diberi..tidak terpikir sedikit pun bahwa seharusnya aku bersyukur kepadaNya atas nafas yang diberikan.
Baru saja kemarin, aku merasakan bahwa hidupku sangat kacau karena diomelin atasan, kerjaan tidak pernah beres, ngerasa sebagai pecundang dan tidak berguna. Baru saja kemarin aku tidak mensyukuri hidup yang diberikanNya kepadaku. Baru saja kemarin aku ngambeg kepadaNya, tidak mau lagi memohon kepadaNya. Baru saja kemarin aku merasa tidak beharga sebagai manusia.
Tetapi memang Dia masih sayang kepadaku. Dia masih menegurku dan memberi tahu dengan caranya sendiri. Hari ini, aku mengalami hal yang luar biasa. Terima kasih kepada Udin, anak mungil yang jadi perantaraNya. Terima kasih banyak, aku berhutang kepadanya.
Cerita berawal tadi sore, ketika aku pulang dari kantor. Keadaanku sangat kacau. Pekerjaan yang tidak aku kuasai, kemudian pacar yang mulai gerah terhadap gerak gerikku. Ketika aku merasa tidak mempunyai sedikitpun dari kehidupanku yang aku bisa syukuri. Aku kerja di sebuah majalah, majalah pendidikan berbahasa inggris. Dari luar sie keliatannya oke, tapi ternyata prestasiku tidak sebagus yang kukira.
Penyesalan selalu ada di benakku karena aku harus memutuskan untuk keluar dari mediaku yang lama yaitu koran Seputar Indonesia. Aku keluar dari sana karena aku memikirkan tentang masa depanku untuk menikah dengan qiqi, asisten redactur biro Palembang yang jika kami teruskan rencana kami maka salah satu dari kami harus keluar dari kantor itu.
Aku memutuskan keluar karena aku berpikir karirku masih sangat dangkal disana. Majalah Campusasia ini menerimaku, tapi ternyata keadaan tidak semulus yang aku kira. Keadaan kantor sangat menyiksaku, karena aku tenggelam akibat pemredku pilih kasih (setidaknya menurutku). Dia lebih seneng “ngopenin” temen seangkatanku candyce.
Well, jelas hal ini sangat menekanku, apalagi ditambah dengan rasa sentimennya terhadapku. Puncaknya adalah ketika kemarin, saat aku diberikan tugas sekretaris redaksi, yaitu membuat surat permohonan liputan ke kedubes Australia. Dan untuk itu saja aku dimaki-maki di depan teman-teman. Harga diriku terinjak-injak.
Disinilah saat-saat dimana aku marah dengan Tuhan. Aku marah karena ketidakadilan yang ada di hidupku. Aku marah karena aku tidak bisa melawan. Aku marah karena tidak terima, mengapa kehidupan mereka jauh lebih baik dariku. Aku bahkan berpikir, percuma aku tungging-tunggingan sholat lima waktu setiap hari, hanya untuk dihina seorang timor yang belagu dan sangat sombong itu.
Namun amarah itu padam karena Udin. Aku yakin dia adalah perantara yang sengaja Tuhan berikan untuk memberikan penjelasan kepada amarahku. Selama ini aku kurang bersyukur..
Jadi tadi sore, entah kenapa, tumben-tumbennya aku meminta koran investor daily dari kantor dan memang kebetulan koran itu ada dan masih dibungkus (dilipat kemudian dibungkus kertas). Naah..itu koran aku ngga buka karena ketunda rapat redaksi sampai pulang. Otakku sudah panas, bahkan sampai selesai rapat, masih ada kerjaan yang aku tinggal, karena calon suamiku mulai tidak suka pekerjaanku.
Aku pulang dengan buru-buru, dengan harapan supaya qiqi ngga marah (walaupun pada akhirnya tetap marah). Karena koran itu masih dibungkus, aku bawa pulang koran itu dengan harapan aku bisa membacanya di kosan.
Entah kenapa pula, aku tidak mau memasukkan koran itu ke dalam tas. Aku membawanya di tangan kiriku sembari membawa motor. Sembari berpikir, betapa kesalnya aku dengan hidupku, aku masih menenteng koran tersebut hingga lampu merah menuju Tugu Tani. Di lampu merah aku berhenti di depan line zebracross karena kebetulan lampu merah tersebut baru menyala, jadi aku berada di barisan depan.
Dari kejauhan aku memandang langkah gontai anak kecil berusia kira-kira enam tahun. Aku sangat yakin dia sangat kecil untuk seumurannya. Dengan matanya yang sangat polos, dia melihatku dan koran yang aku pegang secara bergantian.
Anak itu ada di sebelah kananku karena dia berada di trotoar. Tanpa disangka tau-tau dia sudah berada di sebelah kiriku sambil menatapku. Dia bertanya,
“Mba, itu koran yah?”
Karena kaget aku bertanya kembali, “Apa dek?”
Dia kemudian kembali menanyakan dan kali ini sambil menunjuk koranku “Itu koran ya mbak?”
Astaga, aku berpikir kenapa anak ini tiba-tiba nanyain koran, aku kira dia akan menadahkan tangan dan meminta-minta seperti anak pengemis lainnya. Apakah dia menginginkan koran ini?
Aku kembali bertanya “Iya, ini koran, emangnya kamu mau?”
“Iya mba,”
Ya Tuhaaan…Subhanallah,,he’s just a kid, sangat terlihat dia kurus dan kurang gizi, tapi aku yakin dia akan menjadi pemuda yang tampan karena parasnya masih menarik walaupun kumal.
Aku tidak serta merta memberikan koran tersebut, aku kembali bertanya sambil ditatap oleh kedua mata yang sangat polos itu.
“Lho, emangnya kamu buat apa dek,” ujarku
“Buat tidur!”
Astagfirullah..seperti disambar petir rasanya. Entah aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku. Sepertinya aku sudah benar-benar tertampar. Pikiranku langsung melayang. Tuhaan, anak sekecil ini harus beralas koran pada tidurnya, sedangkan aku bisa nyaman di kasur empuk? Segitu beratnya kehidupan sang anak tetapi tidak ada satu pun dalam tatapannya dia menghujatMu Tuhan. Sedangkan aku? Aku yang bisa tertawa sana sini, tidur enak, makan enak, sama sekali tidak bersyukur akan itu?
Aku langsung memberikan koran itu, kepadanya.
“Ya udah dek, ini! Udah sana, jalan lagi, takutnya keburu ijo, ntar ketabrak lagi!”
“Iya, makasie ya mbak!”
“Namamu sapa?”
“Udin Mbak,”
Namun sempat dilihatnya koran itu, kemudian dia kembali bertanya, “Mba ini koran baru?”
“Iya, ini koran hari ini dek,” aku tahu pasti dalam pikirannya koran itu bisa dia jual kembali dan mendapatkan uang, mungkin akan lebih untung. Kemudian pada waktu dia membalikkan badan aku sentuhlah punggungnya. Semakin sedih aku pada saat mengetahui, bahwa tulang bahu dan belikatnya sangat menonjol, pertanda dia terlalu kurus untuk seukurannya.
Air mataku mengalir saat itu juga ketika aku melihatnya berlalu..kuputuskanlah meminggirkan motorku dan mengejarnya.
“Udin!!Din!!” teriakku.
Dia membalikkan badan dan menghampiriku yang setengah berlari menghampirinya. Sambil bersujud untuk menyetarakan diriku dan dirinya. Sambil menyembunyikan air mataku, aku bertanya “Din rumahmu dimana?”
“Di kolong Mbak,” katanya polos.
“Di kolong mana Din,” tanyaku
“Tuuh, di pasar rumput,” ujarnya.
“Ibu?”
“Disitu juga Mbak, saya hari ini sendiri, soalnya Bapak lagi sakit, Emak yang jagain,” masih dengan pandangannya yang polos dan parasnya yang tampan.
Aku keluarkan lembaran uang sepuluh ribu dan kuberikan kepadanya,
“Makasie banyak ya Din,”
Dengan senyum yang lebar dia pergi begitu saja.
Adegan singkat itu sangat berarti buatku. Udin menyadarkanku betapa tidak bersyukurnya aku terhadap rizki yang diberikan Tuhan kepadaku. Belakangan aku menyesal hanya memberikan uang sepuluh ribu. Apa yang dilakukannya tidak ternilai.
Terima kasih Udin. Terima kasih..Kau tidak akan pernah sadar bahwa kau menyadarkan seseorang Din. Kau mendekatkan kembali orang kepada Tuhannya. Udin, aku selalu berdoa untukmu. Mudah-mudahan Tuhan menyelamatkanmu. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi Din, supaya aku bisa membalas jasamu.
Tuhan, selamatkanlah dia..dan Terima kasih banyak ya Allah, kau tetap merangkulku. Terima kasih.
30 Oktober 2008
-
Recent
- akhirnya gw bisa bikin blog lageee…
- kangen blog gw
- Gawaaat!!!!
- The Day the Earth Stood Still, Cocok Buat yang Cinta Lingkungan
- Jangan Rusak Baliku…
- Hey Boz!!!!! What Do You Want From Me??
- Al-Azhar Indonesia Foundation, Serving High Quality Education Basic on Islam Principles
- Pemerintah bikin Bicycle Line Tahun Depan, Solusi atau Masalah???!!
- Hukuman Mati Untuk Para Koruptor, pantaskah?
- Astagfirullah, 9/11 versi mumbai..
- Jakarta People, Becareful When You Want to Take A Bus!
- Zuhal, Profesor yang “Menjual” Pendidikan
-
Links
-
Archives
- August 2009 (1)
- May 2009 (1)
- December 2008 (6)
- November 2008 (5)
- September 2008 (2)
- August 2008 (4)
- April 2008 (6)
- March 2008 (2)
- February 2008 (5)
- December 2007 (10)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS



